Sebagai makhluk yang dianugerahkan akal, manusia tak pernah terlepas dari rasa keinginan untuk mencari tahu hal-hal baru. Semakin kuat hasrat ingin tahu manusia, maka semakin banyak ilmu dan pengetahuan yang akan diperolehnya. Proses mengumpulkan ilmu pengetahuan tersebut merupakan suatu proses belajar yang dilakukan manusia sejak usia dini sampai ia meninggal dunia.
Ilmu adalah hal sistematis yang membangun dan mengatur pengetahuan dalam bentuk penjelasan serta prediksi yang dapat diuji melalui metode ilmiah tentang alam semesta (Mirriam Webster Dictionary, 2018). ilmu terdiri dari dua hal, yaitu bagian utama dari pengetahuan, dan proses di mana pengetahuan itu dihasilkan. Proses pengetahuan memberikan individu cara berpikir dan mengetahui dunia. Proses ilmiah adalah cara membangun pengetahuan dan membuat prediksi tentang dunia dengancara sedemikian rupa sehingga dapat diuji, misal pertanyaan "Apakah Bumi bulat atau datar?" bisa diuji dan dipelajari melalui penelitian, terdapat bukti untuk dievaluasi dan menentukan apakah itu mendukung bumi bulat atau datar. Tujuan ilmiah yang berbeda biasanya menggunakan metode dan pendekatan yang berbeda untuk menyelidiki dunia, tetapi proses pengujian adalah inti dari proses ilmiah untuk semua ilmuah (Carpi & Egger, 2011). Berikut sembilan ciri utama science menurut Mondal (2018) yaitu diantaranya :
1. Objektivitas
Pengetahuan ilmiah bersifat objektif. Objektivitas berarti kemampuan untuk melihat dan menerima fakta apa adanya. Untuk menjadi objektif, seseorang harus waspada terhadap bias, keyakinan, harapan, nilai, dan preferensi sendiri. Objektivitas menuntut bahwa seseorang harus menyisihkan segala macam pertimbangan subyektif dan prasangka.
2. Verifiability
Sains bersandar pada data indra, yaitu data yang dikumpulkan melalui indera kita, yaitu mata, telinga, hidung, lidah, dan sentuhan. Pengetahuan ilmiah didasarkan pada bukti yang dapat diverifikasi, melalui pengamatan faktual konkret sehingga pengamat lain dapat mengamati, menimbang atau mengukur fenomena yang sama dan memeriksa observasi untuk akurasi.
3. Netralitas Etis
Sains bersifat etis netral. Ilmu hanya mencari pengetahuan. Bagaimana pengetahuan ini akan digunakan akan ditentukan oleh nilai-nilai kemasyarakatan. Pengetahuan dapat digunakan berbeda. Etika netralitas tidak berarti bahwa ilmuwan tidak memiliki nilai. Di sini hanya berarti bahwa ia tidak boleh membiarkan nilai-nilainya mengubah desain dan perilaku penelitiannya. Dengan demikian, pengetahuan ilmiah adalah netral terhadap nilai-nilai atau bebas-nilai.
4. Eksplorasi Sistematis
Sebuah penelitian ilmiah mengadopsi prosedur sekuensial tertentu, rencana yang terorganisir atau desain penelitian untuk mengumpulkan dan menganalisis fakta tentang masalah yang diteliti. Umumnya, rencana ini mencakup beberapa langkah ilmiah, seperti perumusan hipotesis, pengumpulan fakta, analisis fakta, dan interpretasi hasil.
5. Keandalan atau Realiabilitas
Pengetahuan ilmiah harus terjadi di bawah keadaan yang ditentukan tidak sekali tetapi berulang kali dan dapat direproduksi dalam keadaan yang dinyatakan di mana saja dan kapan saja. Kesimpulan berdasarkan hanya ingatan tanpa bukti ilmiah sangat tidak dapat diandalkan.
6. Presisi
Pengetahuan ilmiah harus tepat, tidak samar-samar seperti beberapa tulisan sastra. Presisi membutuhkan pemberian angka, data atau ukuran yang tepat.
7. Akurasi
Pengetahuan ilmiah itu akurat. Akurasi secara sederhana berarti kebenaran atau kebenaran suatu pernyataan, menggambarkan hal-hal dengan kata-kata yang tepat sebagaimana adanya tanpa melompat ke kesimpulan yang tidak beralasan, harus ada data dan bukti yang jelas.
8. Abstrak
Sains berlanjut pada bidang abstraksi. Prinsip ilmiah umum sangat abstrak. Tidak tertarik untuk memberikan gambaran yang realistis.
9. Prediktabilitas
Para ilmuwan tidak hanya menggambarkan fenomena yang sedang dipelajari, tetapi juga berusaha untuk menjelaskan dan memprediksi juga.
Dalam bukunya yang berjudul Methods in Psychological Research, Evans dan Rooney (2008) berpendapat dengan orientasi psikologi yang mempelajari individu sebagai subject matter-nya, bahwa ilmu memiliki empat fungsi, antara lain:
a. To Describe (mendeskripsikan)
b. To Explain (menjelaskan)
c. To Predict (memprediksikan)
d. To Control (mengontrol atau mengendalikan)
Thanks To
Sumber :
(1) (PDF) Hakikat Ilmu dan Pengetahuan. Available from: https://www.researchgate.net/publication/327307040_Hakikat_Ilmu_dan_Pengetahuan [accessed Jan 22 2019].
(1) (PDF) Hakikat Ilmu dan Pengetahuan. Available from: https://www.researchgate.net/publication/327307040_Hakikat_Ilmu_dan_Pengetahuan [accessed Jan 22 2019].







0 komentar:
Post a Comment